Tampilkan postingan dengan label global warming. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label global warming. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Mei 2013

Periode Terpanas Bumi dalam 1.400 Tahun adalah Abad Ke-20

global warming Andrea Zeppilli Ilustrasi : Pemanasan Global
PARIS, KOMPAS.com — Bumi sebenarnya sedang dalam masa pendinginan hingga akhir abad ke-19. Namun, seratus tahun lagi, di abad ke-20, suhu Bumi mengalami peningkatan hingga menjadi yang terpanas dalam periode 1.400 tahun terakhir.

Fakta tersebut terungkap dari hasil penelitian yang dikoordinasikan oleh Past Global Changes (Pages) 2K Network. Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal Nature Geoscience pada Minggu (21/4/2013).

Penelitian mengungkap, di abad ke-20, temperatur Bumi secara global 0,4 derajat celsius lebih tinggi dari 500 tahun sebelumnya. Hanya Antartika yang tidak menyesuaikan dengan tren ini. Sementara itu, dari tahun 1970-2000, Bumi mencapai suhu terpanas dalam 1.400 tahun terakhir.

"Ada hal umum di semua wilayah Bumi. Pendinginan jangka panjang hingga abad ke-19 yang diikuti dengan pemanasan di semua wilayah, kecuali di Antartika," ungkap Hugoes Goose, pakar klimatologi di Catholic University of Louren, Belgia, seperti dikutip AFP, Minggu.

Beberapa pihak yang skeptis dengan pemanasan global mengatakan bahwa naik turunnya suhu Bumi alami dan pernah terjadi sebelum Revolusi Industri. Suhu Bumi pernah mengalami kenaikan dan penurunan pada Medieval Warm Period dan Little Ice Age.

Penelitian ini memberikan gambaran bahwa kenaikan dan penurunan suhu Bumi bukan hanya oleh sebab alam. Penurunan sebesar 0,1-0,3 derajat celsius per seribu tahun yang terjadi berbalik menjadi pemanasan pada akhir abad ke-19 hingga abad ke-20.

Penelitian sebelumnya mengungkap bahwa pemanasan pada abad ke-20 terkait dengan gas rumah kaca dari bahan bakar. Pemanasan terus terjadi hingga tahun 1970 seiring dengan level karbon dioksida yang ikut meningkat.

Pada Januari, ilmuwan Amerika Serikat menyatakan, tahun 2012 merupakan tahun kesembilan atau kesepuluh terpanas. Tahun 2012 juga merupakan tahun ke-36, dengan suhu Bumi terus memecahkan rekor terpanas sejak 1880.

Senin, 22 April 2013

Bumi Memanas, Beruang Kutub Harus Lebih Gemuk


dampak global warmingALBERTA, KOMPAS.com — Pemanasan global yang sedang terjadi saat ini memaksa beruang kutub agar lebih gemuk untuk bisa bertahan hidup selama menghabiskan musim panas di daratan.

Fakta menarik ini terungkap dari hasil kajian selama 10 tahun yang dilakukan Dr Seth Cherry dan timnya dari University of Alberta terhadap populasi beruang kutub yang hidup di sebelah barat Teluk Hudson.

Beruang kutub di lokasi penelitian sepertinya telah beradaptasi dengan perubahan kondisi lingkungan yang terjadi. Hewan itu melakukan migrasi tahunan, terdorong ke daratan akibat melelehnya es yang ada di lautan selama musim panas dan baru membeku kembali pada akhir November atau awal Desember yang bertepatan dengan akhir musim gugur.

"Kondisi lingkungan seperti ini menjadi tantangan yang menarik bagi spesies yang telah berevolusi menjadi pemburu anjing laut yang hidup berasosiasi dengan es," kata Cherry.

"Meski beruang kutub merupakan perenang yang sangat hebat dibandingkan beruang lainnya, beruang ini menggunakan es yang ada di lautan untuk aktivitas mereka seperti bepergian, berburu, bereproduksi, dan beristirahat," lanjutnya.

Cherry dan timnya telah mengamati 109 beruang kutub betina sejak tahun 1991-1997 dan 2004-2009. Pada saat bersamaan, tim juga mengamati posisi dan konsentrasi es laut menggunakan citra satelit.

Dari data yang diperoleh Cherry dan timnya, tercatat bahwa pada beberapa tahun belakangan, beruang kutub datang lebih awal di musim panas dan meninggalkan daratan pada musim gugur.

"Ini merupakan contoh perubahan perilaku yang jelas terjadi akibat iklim yang memanas dan mungkin membantu menjelaskan hasil penelitian lain yang menunjukkan adanya penurunan pada kondisi tubuh dan produksi keturunan beruang kutub," papar Cherry seperti dikutip Physorg, Selasa (19/3/2013).

Selama di daratan, beruang kutub tidak dapat berburu anjing laut yang menjadi sumber makanannya karena sulitnya mencapai lokasi tempat buruan.

Ini berarti, semakin lama beruang tersebut berada di daratan, semakin lama juga mereka harus bertahan hidup tanpa asupan energi. Dengan kata lain, beruang kutub harus menyiapkan cadangan energi (misalnya lemak) lebih banyak untuk bisa bertahan hidup.

"Perubahan lingkungan yang disebabkan kondisi lingkungan menjadi penyebab es yang ada di lautan mencair lebih awal dan membeku lebih lambat, atau keduanya, ternyata berdampak pada kesehatan beruang kutub di daerah ini. Pada akhirnya, bagi kehidupan beruang kutub, yang berlaku adalah survival for the fattest," ujar Cherry.

Cherry berharap hasil kajian yang dipublikasikan di jurnal Journal of Animal Ecology ini bisa membantu peneliti lain dan pengelola alam liar untuk memprediksi potensi perubahan lingkungan akibat kondisi iklim bisa memengaruhi kondisi ekologi, khususnya pola migrasi hewan ini.

10 BENCANA BESAR AKIBAT GLOBAL WARMING

1. Gletser Menciut

Gletser adalah daratan yang terbuat dari es. Gletser bakal ikut meleleh dan menciut seiring dengan bertambahnya suhu bumi. Suhu bumi meningkat karena tingginya emisi gas rumah kaca di atmosfer. Selama tahun 1990- 2005 saja suhu bumi naik 0,15 - 0,3 derajat celcius. Gletser Himalaya yang memasok air ke sungai Gangga sekaligus menyediakan irigasi dan suplai air minum untuk 500 juta penduduk,menyusut 37 meter pertahun.Gletser di kutub semakin cepat mencair hingga membuat permukaan air laut di bumi naik.

2. Pulau Tenggelam

Indonesia , Amerika Serikat, dan Bangladesh adalah beberapa negara yang paling terancam tenggelam. Bahkan beberapa pulau di Indonesia sudah hilang tenggelam. Ini disebabkan mencairnya permukaan gletser di kutub yang membuat volume air laut meningkat drastis. Menyusutnya hutan bakau memperparah pasangnya air laut. Sekarang saja pasang air laut Pantai Kuta telah membanjiri beberapa lobi hotel disekitarnya. Pulau Jawa juga bernasib sama , sampai saat ini permukaan Teluk Jakarta sudah naik 0,8 cm. Dan kalau suhu bumi terus naik , tahun 2050 derah-daerah Jakarta dan Bekasi seperti Kosambi , Penjaringan , Cilincing , Muaragembong , dan Tarumajaya akan terendam.

3. Badai

Badai memang bisa terjadi karena kehendak alam. Tapi suhu air yang menghangat akibat global warming mendukung terjadinya badai yang jauh lebih kuat dan besar. Beberapa tahun belakangan ini , negara-negara di Eropa, Amerika, dan Karibia telah mengalami begitu banyak badai dibandingkan abad sebelumnya. Bahkan badai-badai tersebut bukan cuma badai biasa, namun masuk kategori badai mematikan , seperti badai katrina,badai ike, badai nargis, badai rita,dll.

4. Gelombang Panas

Tahun 2003 lalu, Eropa diserang gelombang panas alias heat wave , yang menewaskan banyak orang. Mengejutkan ! Tapi bencana ini sudah diperkirakan ratusan tahun yang lalu , tepatnya tahun 1900 oleh para ilmuwan di masa itu . Gelombang panas memang pernah terjad beberapa kali di bumi , namun belakangan ini makin sering terjadi. Dan diperkirakan 40 tahun lagi frekwensinya akan meningkat 100 kali lipat.

5. Kekeringan

Afrika, India, dan daerah-daerah kering lainnya bakal menderita kekeringan lebih parah ! Air akan makin sulit di dapat dan tanah tak bisa ditanami apa-apa lagi, hingga suplai makanan berkurang drastis. Ilmuwan memperkirakan hasil tani negara-negara Afrika akan menurun 50 % di tahun 2020 , dan tingkat kekeringan di dunia meningkat 66 % . Tak terbayang kalau kekeringan ini sampai terjadi di bumi ini.

6. Perang dan Konflik



Negara yang kekurangan air dan bahan pangan kemungkinan besar akan mengalami panik dan berubah jadi agresif. Lalu bukan tak mungkin mereka berusaha saling merebut lahan yang belum rusak.

7. Penyakit Merajalela

Malaria, demam berdarah , ebola , dan banyak penyakit yang dulu cuma di anggap sebagai penyakit negara tropis , bisa menyebar ke berbagai negara Eropa yang dikenal dingin. Penyebabnya apalagi kalau bukan banjir atau kekeringan yang mengundang banyak hewan pembawa penyakit bersarang disana!!!

8. Perekonomian Kacau

Ladang pertanian dan perkebunan yang biasanya menghasilkan akan musnah oleh banjir atau kekeringan. Penduduk akan dibuat makin menderita karena stok bahan pangan dan kebutuhan pokok lainnya akan jauh berkurang dan harganya pasti akan melambung naik. Pemerintah juga membutuhkan biaya yang banyak untuk membangun kembali wilayah yang terkena bencana dan menanggulangi penyakit yang mewabah.

9. Ekosistem Hancur

Perubahan iklim yang terjadi akibat global warming akan menghancurkan ekosistem yang ada. Setelah sebagian mahkluk hidup di bumi musnah akibat bencana kekeringan, banjir , badai, atau ditenggelamkan air laut, mahkluk hidup yang tersisa bakal mengalami kesulitan untuk bertahan hidup. Penyebabnya adalah berkurangnya sumber air , udara bersih, bahan bakar , sumber energi , bahan makanan, obat-obatan yang dibutuhkan untuk survive.

10. Mahkluk Hidup Punah



Sebanyak 30 % mahkluk hidup yang ada sekarang bakal musnah tahun 2050 kalau temperatur bumi terus naik. Spesies yang punah ini kebanyakan yang habitatnya di tempat dingin . Hewan-hewan laut diperkirakan banyak yang tak bisa bertahan setelah suhu air laut jadi menghangat. Kalau tumbuhan dan hewan makin berkurang, jelas manusia akhirnya terancam karena kekurangan bahan makanan.

Ilustrasi: from Google

Minggu, 25 November 2012

Proses terjadinya pemanasan global

Proses terjadinya pemanasan global

marilah kita mengetahui proses pemanasan global terjadi secara bertahap.
Proses ini diawali dari cahaya tapak dari matahari sebahagian dikembalikan keangkasa dan sebagian lagi diserap oleh bumi (yang mana pantulan tersebut dikembalikan lagi dalam wujud radiasi inframerah).
   Radiasi matahari tadi melalui bumi melalui atmosfer,karena semakin banyak radiasi matahari tadi di lapisan atmosfer bumi,sehingga menyebabkan lubang ozon.
Kebanyakan dari radiasi matahari diserap oleh permukaan bumi dan memanaskannya.
 Radiasi inframerah dipancarkan oleh permukaan bumi,
  Radiasi inframerah yang dipancarkan kembali oleh bumi diserap oleh CO2 di atmosfer yang kemudian sebahagian dipancarkan ke angkasa (a) sebahagian lagi dikembalikan ke atmosfer bumi dan (b) CO2 yang kembali ke atmosfer bumi itulah yang disebut dengan pemanasan global (global warming).
Sejak kira-kira tigapuluh tahun yang lalu, para ilmuwan sudah memberi peringatan pada dunia berkenaan dengan akibat buruk yang ditimbulkan oleh Global Warmingatau Pemanasan Global, yang merupakan ancaman paling serius bagi umat manusia setelah perang dingin.
Akibat global warming
Akibat perubahan iklim yang disebabkan oleh Pemanasan Global, glacier di enam benua mulai mencair, lautan es di Kutub Utara dan Kutub Selatan, demikian juga lapisan es di Greenland, juga gletser di puncak-puncak gunung mulai mencair, ini mengakibatkan naiknya permukaan laut, badai yang menghancurkan muncul silih berganti, banjir dan longsor semakin sering terjadi, kekeringan yang melanda pertanian bermunculan di mana-mana, menyebabkan persediaan makanan dan air minum di dunia semakin menipis.
Penyakit tropis menyebar, malaria, demam dengue, demam kuning menyebar ke daerah yang sebelumnya tidak pernah dijangkiti, dan bukan hanya itu, penyakit ini diketahui menjadi semakin ganas. Belum lagi meningkatnya jumlah manusia yang terserang penyakit seperti kanker kulit, kolera dan sebagainya yang belakangan ini semakin mewabah, dan mencakup daerah yang semakin luas.
Pemanasan laut menyebabkan rusaknya karang dan matinya kehidupan di situ. Diperkirakan dalam waktu 50 tahun ke depan, seluruh karang laut di dunia ini akan musnah akibat pemanasan laut dan polusi akibat kegiatan manusia.
Kerugian lain yang segera akan terjadi adalah semakin berkurangnya keaneka-ragaman hayati dan punahnya beberapa spesies satwa karena perubahan musim, siklus kehidupan, waktu migrasi, berkurangnya daerah jelajah serta berkurangnya persediaan makanan mereka.


mungkin ini juga yang anda cari :
       Periode Terpanas Bumi dalam 1.400 Tahun adalah Abad Ke-20 
       Bumi Memanas, Beruang Kutub Harus Lebih Gemuk